Friday, May 28, 2010

Biarkanlah Teguran itu Datang

0
Khudzaifah bin Al Yaman ra dalam suatu kesempatan, mendatangi sahabatnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra.Tidak seperti biasanya, Khudzaifah yang juga disebut Shahibus sirri (penyimpan rahasia) Rasulullah saw itu mendapati Umar dengan raut muka yang muram, penuh kesedihan. Ia bertanya, “Apa yang sedang engkau pikirkan wahai Amirul Mukminin?”

Saudaraku,
Jawaban Umar sama sekali tidak terduga. Kesedihan dan kegalauan hatinya, bukan karena banyak masalah rakyat yang sudah pasti membuatnya letih. Kali ini, Umar justru tengah khawatir memikirkan kondisi dirinya sendiri. “Aku sedang takut bila aku melakukan kemungkaran, lalu tidak ada orang yang melarangku melakukannya karena segan dan rasa hormatnya kepadaku,” ujar Umar pelan. Sahabat Khudzaifah segera menjawab, “Demi Allah, jika aku melihatmu keluar dari kebenaran, aku pasti akan mencegahmu.” Seketika itu, wajah Umar bin Khattab berubah senang. “Alhamdulillah Yang menjadikan untukku sahabat-sahabat yang siap meluruskanku jika aku menyimpang,” katanya.

Seperti itulah Umar. Jika banyak orang gusar dan marah mendapat teguran atas kesalahan yang dilakukannya. Tapi ia justru menginginkan teguran. Khalifah kedua setelah Abu Bakar ra itu justru ingin kesalahannya diketahui orang lain, untuk kemudian ditegur dan diluruskan. Subhanallah....

Saudaraku,

Berterus terang kepada diri sendiri atas kesalahan yang dilakukan bukan hal mudah. Terlebih mengaku berterus terang kepada orang lain dan menerima kesalahan yang dilakukan. Lebih sulit lagi, menerima teguran orang lain atas kesalahan. Tapi sebenarnya, teguran atas kesalahan itu kita perlukan. Al-Qur ’an memberi banyak ilustrasi tentang ajakan bermuhasabah, mengevaluasi diri dan teguran langsung atas kesalahan. Metode muhasabah dan teguran yang ada dalam ayat-ayat Al Qur ’an, mengajak kita mau mengakui semua perbuatan dengan jujur dan tulus. Agar kita terbiasa berterus terang mengungkap berbagai kesalahan kepada diri sendiri. Memeriksa noda-noda kesalahan dan kekeliruan yang ada lalu mengakuinya. Bukan untuk membesar-besarkan kesalahan dan membuat diri menjadi gelisah, tetapi agar kita mengetahui kadar kebaikan dan keburukannya. Inilah makna yang dimaksud dalam perkataan Said bin Jubair saat ia ditanya, “Siapakah orang yang paling hebat ibadahnya?” Ia menjawab, “Orang yang merasa terluka karena dosa dan jika ia ingat dosanya ia memandang kecil amal perbuatannya.” (Az Zuhdu, Imam Ahmad, 387)

Saudaraku,
Perhatikanlah bagaimana para sahabat radhiallahu anhum dalam Perang Uhud mendapat teguran langsung dari Allah swt, saat mereka terluka dan mengalami situasi tertekan dan sulit.Ketika itu turun firman
Allah swt, “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemu dua pasukan itu, mereka digelincirkan oleh setan karena sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau). Dan sesungguhnya Allah telah mengampuni mereka...” (QS.Ali Imran 155). Lihatlah juga di saat bagaimana Allah swt menegur langsung mereka dalam firman-Nya surat Ali Imran ayat 165. “...Kalian berkata: “Dari mana datangnya kekalahan ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Perhatikanlah bagaimana
Allah swt menegur para sahabat dalam peperangan Hunain.“...Dan (ingatlah) peperangan Hunain, di waktu kalian menjadi sombong karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun...” (QS.At Taubah :25)

Maksud teguran langsung tersebut adalah membangkitkan suasana muhasabah, mengangkat kejujuran dan keterbukaan yang bisa menjadikan seseorang mampu mengambil pelajaran dari kekeliruan dan kesalahannya. Musharahah atau keterusterangan untuk mengakui kesalahan adalah langkah paling awal untuk memulai perbaikan.


Saudaraku,
Teguran itu pahit. Tapi cobalah lebih jauh merenungi, pentingnya teguran atas kesalahan. Ustadz Abdul Hamid Al Bilali, dalam Waahaat Al Iiman, menguraikan banyak hal tentang akibat dosa dan kesalahan yang terus menerus dilakukan karena tidak mendapat teguran. Menurutnya, akibat kesalahan yang dilakukan terus menerus adalah sikap tidak merasa berdosa dan tidak merasa bersalah. Perasaan tidak bersalah dan tidak berdosa itu sendiri, bisa disebabkan kondisi akrab dengan dosa tertentu yang terlalu sering dikerjakan. Situasi seperti inilah yang paling ditakutkan Al Hasan Az Zayyat rahimahullah. Ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak peduli dengan banyaknya kemungkaran dan dosa. Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Sebab jika sesuatu dikerjakan dengan rutin, maka jiwa menjadi akrab dengannya dan jika demikian, jiwa menjadi tidak memiliki kepekaan lagi.” (Tanbiihu Al Ghafiliin,93) Bagi Al Hasan, kesalahan dan dosa itu masih bisa dianggap kewajaran lantaran manusia memang pasti melakukan salah dan dosa. Yang ia khawatirkan justru ketika kesalahan dan dosa itu tidak dapat dihentikan, dilakukan terus menerus, lalu jiwa menjadi tidak sensitif terhadap kesalahan dan dosa itu. Juga, ketika dosa dan kesalahan tak terhenti karena tak mau menerima teguran yang bisa menyadarkan. Dan, ketika dosa dan kesalahan terlalu sering dilakukan karena tak ada nasihat serta teguran yang bisa menghentak diri dari kelalaian. Ada lagi akibat dosa yang lebih berbahaya dari kondisi itu. Yakni perasaan aman dan tidak mendapatkan hukuman dari berbagai dosa yang dilakukan. Artinya, seseorang bukan saja tidak menyadari dosa yang dilakukan, tapi lebih dari itu, merasa tenteram dan aman dari hukuman yang Allah swt berikan.

Saudaraku,
Camkanlah nasihat yang dituturkan Imam Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khatir, “Ketahuilah, ujian paling besar bagi seseorang adalah merasa aman dan tidak mendapatkan siksa setelah mengerjakan dosa. Bisa jadi hukuman datang belakangan. Dan hukuman paling berat adalah jika seseorang tidak merasakan hukuman itu. Sampai hukuman itu menghilangkan agama, mencampakkan hati hingga tak bisa menentukan pilihan yang baik. Dan, di antara efek hukuman ini adalah seseorang tetap melakukan dosa sedangkan tubuh segar bugar dan seluruh keinginannya tercapai.” (Shaidul Khatir, 169)

Renungkanlah, kalimat terakhir dari nasihat Ibnul Jauzi ini..._
Readmore »»

Sunday, May 23, 2010

Aku Ingin Memberi Kabar Gembira untuk keluargaku

0

Saudaraku,
Setiap orang pasti punya harapan. Pasti memiliki keinginan. Tapi harapan dan keinginan setiap orang, mungkin saja berbeda. Perbedaan itu terkait dengan banyak hal. Bisa karena lingkungan tempat orang itu berada, bisa tergantung pada pola pikir yang terbentuk dalam dirinya, juga bisa karena pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya. 


Maka, bila kita ingin menjawab pertanyaan, “Apa yang menjadi cita-cita terbesar kita dalam hidup ini?”, Jawabannya terkait dengan tiga faktor tadi; lingkungan, pola pikir dan orang-orang sekitar kita. Orang yang secara ekonomi merasa begitu menderita, umumnya bercita-cita ingin menjadi kaya, memiliki rumah besar dan kendaraan. Orang yang sedang sakit dan lama terbaring di atas kasur, umumnya berharap agar penyakitnya sembuh dan ia bisa bebas bergerak lagi, lalu bisa menikmati makanan enak dan tidur nyenyak. Andai kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada orang yang hartanya berkecukupan, biasanya ia berharap agar hartanya terus bertambah sampai menjadi orang paling kaya. Meski pada kenyataannya, harapan duniawi itu tak akan pernah membuat orang kenyang dan selalu menjadikan manusia bertambah dahaga.

Saudaraku,
Setiap orang, pasti sangat ingin cita-cita dan harapannya menjadi nyata. Tapi, ada sebagian orang yang sudah tidak mungkin lagi berharap keinginan mereka itu terwujud. Mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berusaha, berbuat, melakukan sebab apapun untuk bisa mencapai harapan dan cita-citanya. Siapakah mereka? Kenapa mereka tak mungkin lagi berupaya menggapai keinginannya? Lalu, mungkinkah kita bisa membantu mereka mewujudkan harapan mereka?

Saudaraku,
Mereka orang-orang yang sudah pergi meninggal dunia. Mereka, orang-orang yang telah wafat dan dikembalikan ruhnya kepada Allah swt.. ..Laa haula walaa quwwata illaa billaah... Tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah... 


Mari kita membicarakan kelompok yang sering dilupakan ini. Agar kita mengetahui bagaimana sebenarnya, keinginan orang-orang yang telah ditentukan tempat akhirnya di surga atau neraka. Mereka orang-orang yang telah menyaksikan para Malaikat, yang telah melihat langsung hal-hal yang semula ghaib, yang sudah meyakini hakikat dunia dan hakikat akhirat, yang merasakan detik demi detik penantian sebelum mereka dibangkitkan. Apa saja daftar harapan dan keinginan mereka?

Saudaraku,
Di antara mereka, ada para shalihiin. Orang-orang yang telah mengisi waktu hidupnya dengan amal-amal shalih. Saat ruhnya dipanggil oleh Allah swt, ia sangat berharap untuk segera dan mempercepat perjalanannya menuju liang kubur. Ia ingin sekali segera menjumpai tempat pemakamannya yang lapangdan menenangkan. Perhatikanlah saudaraku, bagaimana hadits yang disampaikan dari Abi Sa’id Al Khudri radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ketika jenazah diletakkan dan dibawa di atas punggung orang-orang yang memikulnya. Jika ia merupakan jenazah orang shalih, ia akan berkata, “Percepatlah.. percepatlah.. Tapi jika jenazah itu bukan dari golongan orang shalih, ia berkata, “Aduh, kemana mereka akan bawa jenazah ini?” Semua mendengar perkataan itu kecuali manusia. Andai manusia mendengarnya, niscaya ia bisa jatuh pingsan.” (HR.Bukhari).

Saudaraku,
Seperti itu sepintas harapan yang keluar dari orang-orang mati. Dan peristiwanya memang belum berakhir. Harapan-harapan mereka masih terus terungkap.
Bagi orang-orang shalih, saat pertama kali dimasukkan ke dalam liang kubur, itu adalah saat pertama memperoleh kabar gembira tentang surga. Ia bahkan telah dikaruniai Allah untuk melihat kedudukannya di surga. Maka, ia sama sekali tak ingin kembali ke dunia. Ia justru berharap agar hari kebangkitan segera datang dan ia bisa merasakan langsung kenikmatan yang ditunggu-tunggu itu.


Inilah yang disabdakan Rasulullah saw, bahwa ketika seorang mukmin menjawab pertanyaan dua Malaikat di dalam kuburnya, terdengarlah seruan dari langit “Jika hamba-Ku benar, selimutilah ia dengan selimut dari surga, beri pakaian untuknya dengan pakaian dari surga, bukakan di hadapannya pintu menuju surga. Lalu ia bisa mencium wangi dan harumnya surga. Kuburnya akan dijadikan luas sepanjang ia memandang. Ia lalu didatangi seorang yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum. Orang itu berkata, “Berbahagialah dengan sesuatu yang akan memudahkanmu .Ini adalah harimu yang telah dijanjikan. ” Si mayit berkata,, “Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan.” Orang itu mengatakan,, “Aku adalah amal shalihmu.” Ketika itulah, si mayit berkata, “Ya Rabb..percepatlah hari kiamat. Ya Rabb...percepatlah hari kiamat .Agar aku bisa bertemu dengan keluarga dan hartaku...” (HR.Abu Daud).

Saudaraku,
Bukan hanya itu kebahagiaan mereka. Seorang shalih, bahkan sangat ingin kembali ke dunia dan memberitahukan keluarganya yang masih hidup. Perhatikanlah saudaraku, Bagaimana keinginan itu digambarkan dalam hadits Rasulullah saw. “Jika seorang Mukmin melihat keluasan yang diberikan Allah untuknya di dalam kuburnya, ia mengatakan, “Biarkan aku pergi untuk memberitakan kabar gembira kepada keluargaku.” Lalu dikatakanlah kepadanya : “Tenanglah...” (HR.Ahmad)

Saudaraku,
Rasakanlah getar suka cita dan kebahagiaan yang menyergap perasaan orang-orang shalih itu, saat pertama mereka berada di alam kubur. Mereka, sangat ingin diberi kesempatan bertemu dengan keluarga yang ditinggalkan untuk menyampaikan kebahagiaan yang mereka rasakan. Mereka, merindukan keluarga yang ditinggalkannya agar mengetahui keadaan mereka saat itu. Mereka ingin keluarga yang telah menemaninya hidup dalam keshalihan, turut berbahagia dengan keadaanyang dialaminya.

Saudaraku,
Akankah kita akan merasakan kebahagiaan seperti mereka?_
Readmore »»

Tuesday, May 11, 2010

Dengarkanlah Al-Qur’an darinya….

0

Saudaraku,
Suatu saat, mungkin rongga-rongga hati kita terasa sesak oleh gelombang kehidupan. Barangkali, jiwa kita merasakan bosan pada gersangnya keadaan dan kita didera suasana yang memunculkan kesedihan. Maka, mulailah membuka jalan menuju kebahagiaan dengan kalamullah, Al-Qur’an.

Mari perhatikan potongan kata demi kata dalam munajat yang diucapkan Rasulullah saw, “…. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang jadi milik-Mu yang Engkau namakan dengan diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi Mu…”

Apa yang Rasulullah minta setelah menguraikan redaksi begitu detail dan dalam tentang kesempurnaan Allah melalui nama dan sifat-Nya yang mulia itu? Rasulullah berdo’a, “… jadikanlah Al-Qur’an yang mulia kesuburan hatiku dan cahaya dadaku serta menjadi tempat melepaskan segala kesukaranku dan menghilangkan dukacitaku…”

Saudaraku,
Renungkanlah do’a itu. Lukiskanlah dalam benak hati kita, bagaimana Rasulullah saw memiliki perasaan yang amat kuat dengan Al-Qur’an terkait dengan kondisi jiwanya. Dalam do’a itu, Rasulullah meminta agar Al-Qur’an menjadi saluran kasih sayang Allah yang berwujud cahaya dalam jiwa, pelipur lar, pengusir kesedihan, dan penyembuh semua ketidaknyamanan yang bersarang dalam hati. Sangat indah sekali, ketika di akhir haditds riwayat Ahmad tersebut Rasul mengatakan, “Tidaklah seorang hamba membaca do’a tersebut melainkan akan Allah hilangkan rasa sedihnya, dan akan menggantikannya dengan kegembiraan.”

Subhanallah… Alhamdulillah… atas segala rahmat dan kasih sayang Allah…

Saudaraku,
Al-Qur’an mampu memberi pengaruh besar dalam jiwa. Pernahkah kita mendengar bagaimana reaksi orang-orang kafir dahulu saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an? Seorang pemuka Quraisy bernama Abdul Walid pernah mendatangi Rasulullah saw untuk menentangnya. Setelah ia puas mencaci maki, Rasulullah saw balik bertanya, “Sudah selesaikah wahai Abdul Walid? Sekarang dengarkanlah dariku,” kata Rasulullah saw dilanjutkan dengan bacaan surat Fushilat ayat 1 hingga 13. Abdul Walid tiba-tiba meletakkan tangannya di mulut Rasulullah, tanda agar Rasulullah tidak menyempurnakan bacaannya. Ia lalu kembali ke kaumnya dengan kondisi yang berbeda dibandingkan saat ia pergi menemui Rasulullah. Dan ia menyatakan beriman kepada seruan Rasulullah saw.

Mereka begitu tersentuh dan terguncang jiwanya saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mengatakan Al-Qur’an seperti sihir yang menguasai hati dan jiwa bila didengarkan. Karena khawatir terpengaruh, di antara orang-orang kafir itu bahkan memerintahkan teman-temannya untuk memunculkan kegaduhan bila terdengar bacaan Al-Qur’an. “Dan berkatalah orang-orang kafir, janganlah kalian mendengarkan AlQur’an dan munculkanlah hiruk pikuk (saat pembacaannya), supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS. Fushilat: 12). Seperti itulah sikap orang-orang kafir karena pengaruh yang dimunculkan oleh Al Qur’an dalam jiwa mereka.

Saudaraku,
Ternyata mendengarkan Al Qur’an begitu luar biasa pengaruhnya dalam jiwa. Mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al Qur’an begitu merasuk kedalam hati. Kita menjadi lebih mengerti, mengapa Rasulullah saw pun suka bila dibacakan di hadapannya ayat-ayat Al Qur’an, meskipun ayat-ayat itu turun kepada dirinya. Seperti permintaannya kepada Ibnu Mas’ud agar dibacakan Al Qur’an, lalu Rasulullah berucap, “cukup…cukup…”, saat Ibnu Mas’ud rahimahullah sampai pada ayat 14 surat An Nisa. Dan mata Rasullah terlihat berlinang air mata.

Ibnu Bathal menguraikan penjelasannya dari hadits ini, seperti dikutip dalam Fath Al Bari, “Mungkin Rasulullah lebih suka diperdengarkan Al Qur’an dari orang lain, untuk lebih dapat dirasakan. Atau agar ia lebih dalam mentadabburi dan memahami isinya. Orang yang mendengarkan Al Qur’an biasanya lebih kuat tadabburnya. Jiwanya lebih serius mengikuti bacaan ketimbang orang yang membacanya, karena disibukkan dengan membaca dan hukum-hukum bacaan.”

Saudaraku,
Pengaruh mendengarkan bacaan Al Quran tidak hanya mempengaruhi jiwa dan hati manusia. Karena bacaan Al Qur’an juga sangat mempengaruhi jin. Perhatikan baik-baik apa yang disampaikan Al Qur’an tentang hal ini. “Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29)

Saudaraku, semoga Al Qur’an menjadi cahaya dalam hati kita,
Jika kita ingin mendapatkan keterangan, dengarkanlah bacaan ayat-ayat Al Qur’an. Mintalah seorang saudara untuk membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Rasul saw memberi nasehat pendek tentang siapa orang yang bisa memberi pengaruh pada jiwa saat ia membaca Al Qur’an. Suatu ketika ia ditanya, “Siapakah manusia yang paling baik suaranya membaca Al Qur’an dan paling baik bacaannya?” Rasul menjawab, “Yaitu orang yang jika engkau mendengarkannya, engkau lihat dirinya takut kepada Allah swt.” (HR. Muslim)

Saudaraku,
Jika kita mendapatkan seseorang yang takut kepada Allah, mintalah dirinya untuk membacakan ayat-ayat Al Qur’an untuk kita. Duduklah dihadapannya, konsentrasilah dan renungkah bacaannya. Sesungguhnya, mendengarkan Al Qur’an bisa menjadi saluran energi yang mencerahkan jiwa kita. Itulah salah satu bentuk rahmat Allah swt dari mendengarkan Al Qur’an. Sebagaimana firman-Nya, “Apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al A’raf:204)
Dengarkanlah bacaan Al Qur’an dari lisannya. Lalu rasakanlah bagaimana suasana jiwa kita setelah mendengarkannya.

Tarbawi
Readmore »»

Seberapa Besar Hati Kita Mengagungkan Allah?

0

Saudaraku,
Mungkinkah orang yang banyak berdosa, menyisakan hati yang mengakui keagungan Allah swt? Banyak orang mengira jawabannya, tidak. Mereka mengatakan, hanya orang shaleh yang mampu memiliki hati yang menyimpan kebesaran dan keagungan Allah swt. Sementara pelaku dosa dan yang bergelimang kemaksiatan, mereka termasuk kelompok orang yang tidak mendapat rahmat Allah, dan ini artinya tidak ada pengakuan dalam hati mereka terhadap kebesaran dan keagungan Allah swt.

Saudaraku yang dikasihi Allah,
Dosa dan maksiat memang pasti memberi dampak pada orang yang melakukannya. Begitu pun ketaatan yang pasti memberi pengaruh pada orang yang melakukannya. “Kebaikan itu menyinari wajah, memberi cahaya dalam hati,membuka keluasan rejeki, memberi kekuatan tubuh, menambah cinta di hati makhluk. Sedangkan keburukan dan dosa itu, memberi kelam di wajah, kegelapan di dalam kubur dan di dalam hati,melemahkan tubuh, menyempitkan rejeki dan memunculkan kebencian di hati makhluk.” Demikian ungkapan Ibnu Abbas radhiallahu anhu.

Saudaraku,
Tapi
Islam tetap selalu ingin memberi semangat pada orang yang sudah berdosa agar tidak pernah putus harapan dari rahmat Allah. Dosa dan kemaksiatan sebenarnya tidak menghalangi seseorang untuk tetap memiliki hati yang mengakui kebesaran dan keagungan Allah swt. Mungkin, kita menapakkan kaki di tempat yang tidak sesuai dengan keridhaan Allah swt. Tapi hati kita tetap memendam pengakuan tulus akan keagungan Allah swt. Ini artinya, Allah swt meniupkan kebaikan dalam hati, meski secara lahir kita belum sesuai dengan situasi hati kita. Itulah sebabnya para ulama membagi dua kategori kemaksiatan, yakni kemaksiatan anggota tubuh yang disebut dzunuub al jawaarih, dan kemaksiatan hati yang disebut dzunuub al qalb. Meski tidak dipungkiri juga ada keterkaitan antara keduanya, dan yang paling membahayakan adalah kemaksiatan hati ketimbang kemaksiatan anggota tubuh.

Saudaraku,
Keadaan hati yang tetap mengagungkan Allah swt, adalah kondisi yang membersihkan seseorang untuk kembali dari ragam penyimpangan. Hati seperti inilah yang tetap menyuarakan keagungan dan ke Maha Besaran Allah swt sehingga menolong pemiliknya dari kondisi larut dalam kesalahan. Seperti ungkapan sebagian orang shalih, “Barangsiapa yang di dalam hatinya tetap mengagungkan Allah swt, maka Allah swt akan menolongnya agar jasadnya juga mengagungkan Allah swt.”

Lihatlah peristiwa yang dialami seorang shalih bernama Basyar Al Hafi, tokoh ulama yang terkenal zuhud dan wara ’ Abu Na ’im dalam Hilyatu Al Auliya, menguraikan Basyar Al Hafi yang mengatakan, “Aku dahulu seorang yang tersesat dan tidak tahu arah. Suatu hari aku melihat sebuah kertas di atas jalan. Aku mengambil kertas itu dan kulihat di dalamnya tertera kalimat “Bismillahir Rahmaanir Rahiim ”. Aku bersihkan kertas itu dan aku masukkan ke dalam kantong. Saat itu aku hanya mempunyai uang dua dirham, tapi uang itu kuhabiskan untuk membeli minyak wangi. Minyak wangi itu aku usap pada kertas yang kusimpan di dalam kantong. Malam harinya, aku bermimpi seseorang mengatakan padaku, “Wahai Basyar, engkau angkat Nama Kami dari jalanan. Engkau membuatnya harum. Maka Aku akan mengharumkan namamu di dunia dan di akhirat.”

Renungkanlah saudaraku, bagaimana pengagungan Allah swt yang ada di dalam hati Basyar Al Hafi.
Saudaraku,
Ada pula kisah pelaku dosa yang tiba-tiba jiwanya tersungkur merasakan keagungan Allah swt. Lihatlah perubahan besar yang dilakukan seorang bernama Fudhail bin Iyadh, yang kemudian menjadi salah satu ulama besar Islam di jamannya. Dahulunya, Fudhail adalah seorang perampok yang sangat ditakuti karena kekejamannya. Suatu ketika, ia merampok sebuah rumah sebelum waktu subuh. Saat menaiki tembok rumah, ia melihat seorang kakek tua membaca Al-Qur ’an. Saat itu, mungkin saja Fudhail tetap melanjutkan aksinya untuk merampok, tapi bacaan Al-Qur ’an orang tua itu begitu membuat jiwanya guncang. Secara lahir, Fudhail sudah melakukan kejahatan. Tapi kali ini, kejahatan fisiknya tidak mendominasi keburukan hatinya. Maka, ketika orang tua itu membacaan firman Allah swt, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)...” ((QS.Al Hadid :16). Fudhail memandang ke langit, seraya mengatakan, “Ya Rabb, aku bertaubat kepadamu malam ini.” Saat itu juga ia turun,, lalu mandi dan pergi ke masjid menangis dalam taubatnya. Seperti itulah, bahwa ada banyak perilaku maksiat yang tidak membatasi kondisi hati yang tetap mengagungkan Allah.

Saudaraku,
Karenanya, nilai seseorang tidak serta merta jatuh karena ia melakukan dosa dan maksiat. Bahkan ketika seorang pezina dirajam lalu mendapat cacian dan penghinaan dari sejumlah sahabat, Rasulullah saw bersabda, “Jangan lakukan itu, dia telah bertaubat dengan taubat yang bila ditimbang dengan 70 orang penduduk Madinah niscaya taubatnya meliputi mereka semua.” Dalam riwayat lain,, “Sesungguhnya taubatnya jika ditimbang dengan seluruh penduduk Madinah, niscaya akan meliputi mereka semua.” Artinya, pezina itu pun ternyata memiliki hati yang tetap mengagungkan Allah swt. Kondisi hati seperti itulah yang membuatnya rela mendapat hukuman sesuai kehendak Allah swt dan Rasulullah saw.

Sekarang,mari bertanya pada diri sendiri, seberapa besar keagungan Allah swt dalam hati kita?

Tarbawi
Readmore »»

Monday, May 10, 2010

Biar Kuncupnya Mekar Menjadi Bunga

0

Betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta. Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif, naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya.

Mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya. Begitu pentingkah? Ah, mungkin secara harfiah tidak sejauh itu. Tapi ini adalah masalah manusia yang paling dalam.

Walaupun begitu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi untuk menjawab pertanyaan ini: apa itu cinta? Itu terlalu filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini: bagaimana seharusnya Anda mencintai? Pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.

Cinta itu bunga: bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran. Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga-bunga adalah: air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya Anda mencintai: menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini: menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini: bagaimana istri Anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila Anda ingin mencintai dengan kuat, maka Anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawat dan menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta: pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah Anda telah mengenal istri Anda dengan seksama?
Apakah Anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya?
Apakah Anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya?
Apakah Anda mengenal pola-pola ungkapannya: melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksnya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?

Apakah Anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan?
Apakah Anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya?

Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rasulullah saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, "Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Rasulullah! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Muhammad!"

Apakah beda antara Rasulullah dan Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu juga?
Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa tertentu, dan kata yang lain pada situasi jiwa yang lain.

Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dalam proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau obsesi yang berlebihan terhadap fisik. Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika Anda dapat menerima apa adanya.

Dan ini tidak selalu berarti bahwa Anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya. Apakah yang ia harap dari bayi kecil itu? Ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya, apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya? Tidak.

Semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang, dan karenanya ia menyimpan harapan besar dalam hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yang akan menjadikan segalanya lebih baik.

Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya: pengembangan.
Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yang tertutup. Ketika ia memasuki rumah Anda, memasuki wilayah kekuasaan Anda, menjadi istri Anda, menjadi ibu anak-anak Anda: Andalah yang bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar jadi bunga.

Andalah yang harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati Anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi, dan ungkapan 'Aku Cinta Kamu' boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan tidak mengembangkan.

Apa yang harus Anda berikan kepada istri Anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa bahwa superioritas Anda terganggu. Ini tidak berarti Anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yang ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dalam keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang Anda perlu memotong sejumlah ranting yang sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni.

Hidup adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri Anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri: apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan Anda? Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya:

....Dan nafas cintanya meniup kuncupku
Maka ia mekar jadi bunga...

oleh M Anis Matta
Readmore »»

Iman itu Cerita Keajaiban

0

Iman adalah sumber energi jiwa yang senantiasa memberikan kita kekuatan untuk bergerak menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam zaman kehidupan, atau bergerak mencegah kejahatan, kebatilan dan kerusakan di permukaan bumi. Iman adalah gelora yang memberi inspirasi kepada pikiran-pikiran kita, maka lahirlah bashirah. Iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita, maka lahirlah taqwa. Iman adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita, maka lahirlah harakah (gerakan). Iman menenteramkan perasaan, menguatkan tekad dan menggerakkan raga kita.

Iman merubah individu menjadi baik, dan kebaikan individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat dan dekat. Yang kaya diantara mereka menjadi dermawan, yang miskin menjadi iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), yang berkuasa menjadi adil, yang ulama menjadi taqwa, yang kuat menjadi penyayang, yang pintar menjadi rendah hati, yang bodoh menjadi pembelajar. Ibadah mereka menjadi sumber kesalehan dan kedamaian, ilmu pengetahuan menjadi sumber kekuatan dan kemudahan, kesenian menjadi sumber inspirasi dan semangat kehidupan.

Jika Anda bertanya, mengapa Bilal dapat bertahan di bawah tekanan batu karang raksasa dengan terik matahari padang pasir yang membakar tubuh? Mengapa ia membunuh majikannya dalam perang Badar? Mengapa ia yang tadinya hanyalah seorang budak bisa berubah menjadi pembesar Islam? Lalu, mengapa Abu Bakar yang lembut menjadi sangat keras dan tegar saat perang Riddah? Mengapa Umar bin Khattab yang terhormat mau dengan sukarela membawa gandum ke rumah seorang perempuan miskin di tengah malam. Mengapa Khalid bin Walid lebih menyukai malam-malam dingin dalam jihad fi sabilillah daripada seorang perempuan cantik di malam pengantin? Mengapa Ali bin Abu Thalib mau memakai selimut Rasulullah saw dan tidur di kasur beliau saat dikepung menjelang hijrah, atau hadir dalam pengadilan saat beliau menjadi khalifah untuk diperkarakan dengan seorang warganya yang Yahudi? Mengapa pula Utsman bin Affan bersedia menginfakkan seluruh hartanya, bahkan membiayai sebuah peperangan di masa Rasulullah saw seorang diri? Jawaban semua pertanyaan itu ada di sini: iman!

Sejarah Islam sepanjang lima belas abad ini mencatat, kaum muslimin meraih kemenangan-kemenangan dalam berbagai peperangan, menciptakan kemakmuran dan keadilan, mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dalam peradaban… Apa yang membuat mereka mencapai semua itu? Itulah saat di mana iman mewarnai seluruh aspek kepribadian setiap individu muslim, dan mewarnai seluruh sektor kehidupan.

Tapi sejarah juga menorehkan luka. Pasukan Tartar membantai 80.000 orang kaum muslimin di Baghdad, pasukan Salib menguasai Al-Quds selama 90 tahun, surga Andalusia hilang dari genggaman kaum muslimin dan direbut kembali oleh kaum Salib, Khilafah Utsmaniyah di Turki dihancurkan gerakan Zionisme internasional …. Apa penyebab kehancuran ini? Itulah saat di mana iman hanya menjadi ucapan lisan dan tidak mempunyai hakikat dalam jiwa dan pikiran, tidak memberi vitalitas dan dinamika dalam kehidupan, lalu tenggelam dalam lumpur syahwat.

Karena itulah penguasa mereka menjadi zalim, orang kaya menjadi pelit, orang miskin menjadi pengkhianat, dan tentara mereka tidak punya nyali! Abul Hasan Ali Al-Hasani Al-Nadwi mengatakan: saat kejayaan adalah saat iman, dan saat keruntuhan adalah saat hilangnya iman. Sebagaimana iman menciptakan keajaiban di alam jiwa, seperti itu juga ia menulis cerita keajaiban di alam kenyataan. Gelora dalam jiwa pun menjelma menjadi prestasi-prestasi sejarah.

Allah swt berfirman:”Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali sekali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. “(QS Al-An’am: 122)

Sekarang, ketika kita berbicara tentang proyek kebangkitan Islam, kita bertemu lagi dengan aksioma ini; saat kejayaan adalah saat iman.

Iman Syahid Hasan Al-Banna mengatakan:”Orang-orang yang bekerja atau mengajak untuk membangun umat, mendidik bangsa, memperjuangkan dan mewujudkan misi dan nilai-nilai dalam kehidupan, haruslah mempunyai kekuatan jiwa yang dahsyat yang mengejawantah dalam beberapa hal:

- Tekad baja yang tak tersentuh oleh kelemahan
- Kesetiaan abadi yang tak terjamah oleh penyimpangan dan pengkhianatan
- Pengorbanan mahal yang tak terhalang oleh keserakahan atau kebakhilan
- Pengetahuan, keyakinan dan penghargaan terhadap konsep perjuangan yang dapat menghindarkan dari kesalahan, penyimpangan, tawar menawar atau tertipu dengan konsep yang lain

Keempat hal tersebut sesungguhnya merupakan pekerjaan pekerjaan khusus jiwa. Hanya di atas pilar-pilar dasar itu, dan hanya di atas kekuatan spiritual yang dahsyat itu sajalah umat yang sedang bangkit terdidik dan bangsa yang kokoh terbentuk. Siklus kehidupan akan terbarui kembali bagi mereka yang tak pernah memiliki kehidupan dalam waktu yang lama. Bangsa yang tidak memiliki keempat sifat ini, atau setidak-tidaknya tidak dimiliki oleh para pemimpin dan pembaharunya, adalah bangsa yang miskin dan tersia-siakan yang tak pernah meraih kebaikan atau mewujudkan cita-cita. Mereka hanya akan hidup dalam dunia mimpi-mimpi, bayang-bayang dan kesemuan.

“Sesungguhnya dugaan-dugaan itu sama sekali tidak berguna untuk (mendapatkan) kebenaran. ” (QS Yunus: 36). Inilah sunnah Allah bagi seluruh makhluk-Nya, dan tidak akan ada penggantinya. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubah diri-diri mereka sendiri. ” (QS Al-Ra’d: 11).” (Majmu’atur Rosail, Hasan Al-Banna).

Demikianlah. Jelas sudah, apa yang dibutuhkan gerakan kebangkitan umat saat ini adalah mempertemukan umat dengan sumber energi spiritual mereka: iman! Itulah persoalan kita, bahwa ada banyak kabut yang menyelimuti pemahaman kita mengajarkan hakikat iman. Kesalahan atau kedangkalan dalam pemahaman tentang iman, disertai kesalahan dalam menyusun dan mengajarkannya, adalah sebab utama yang membuat iman kita tidak bekerja semestinya. Ia tidak memberi inspirasi pada pikiran, tidak menerangi jiwa, tidak melahirkan tekad dan tidak juga menggerakkan raga kita untuk bekerja menyamai kebenaran, kebaikan dan keindahan dalam taman hidup kita. Karenanya tidak ada keajaiban di alam jiwa, dan tidak akan terangkai keajaiban itu dalam sejarah kita.

Oleh
H.M. Anis Matta
Readmore »»

Thursday, May 6, 2010

Wasiat Rasulullullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib Ra

0
Wasiat Nabi Muhammad saw, kepada Ali bin abi thalib ra.
Share
Tuesday, March 30, 2010 at 8:52am
WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.;

Wahai Ali, bagi orang ‘ALIM itu ada 3 tanda-2 nya:

1. Jujur dalam berkata-kata.
2. Menjauhi segala yg haram.
3. Merendahkan diri.

Wahai Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda-2 nya:

1. Merahasiakan ibadahnya.
2. Merahasiakan sedekahnya.
3. Merahasiakan ujian yg menimpanya.

Wahai Ali, bagi org yg TAKWA itu ada 3 tanda-2 nya:

1. Takut berlaku dusta dan keji.
2. Menjauhi kejahatan.
3. Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.

Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda-2 nya:

1. Mengawasi dirinya.
2. Menghisab dirinya.
3. Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.

Uang 50.000 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.

60 menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk Chatting atau browsing Facebook.

Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak banyak yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya.
Readmore »»

Rizka Rahman's Album 3

0









Readmore »»

Dakwah

0
DAkwah

Da'wah, BERTUJUAN untuk…

Mengajak … bukan … mengejek

Mengajar … bukan … meng-hajr

Membina … bukan … menghina

Menasehati … bukan … menusuk hati



DA'WAH akan LANCAR dengan…

Menabur kasih … bukan … menguburnya

Menggalang kekuatan … bukan … menggulungnya

Menerangi kebenaran … bukan … memeranginya

Menjaga hak saudara … bukan … menjegalnya


Da'wah, SEHARUSNYA bisa…

Membimbing … bukan … membimbangkan

Memajukan … bukan … memojokkan

Menganjurkan … bukan … menghancurkan

Menyadarkan … bukan … menidurkan


DA'WAH akan lebih BERKUALITAS dengan…

Tabah hadapi cobaan … bukan … tambah minta pujian

Sabar lewati rintangan … bukan… gusar hadapi tantangan

Mewujudkan amalan nyata … bukan … mengumbar kata kata

Menuntun mad-'u … bukan … menonton mereka


Da'Wah, TERASA INDAH bila untuk…

Meneladani … bukan … menelanjangi

Saling memberi … bukan … saling meng-iri

Menyemangati … bukan … menyengat-mati

Mencipta rasa damai … bukan … membuat massa ramai


DA'WAH, terasa MANIS dengan…

Menebar senyum manis … bukan … mengumbar wajah sinis

Berakhlak halus … bukan … berakal bulus

Berniat tulus … bukan … berminat fulus


DA'WAH, itu UPAYA untuk…

Mempertahankan akidah … bukan … mempertuhankan kabilah

Menghidupkan sunnah … bukan … meredupkannya dg bid’ah

Menjadikan orang patuh … bukan … membuatnya jatuh

Membuat umat sembuh … bukan … menjadikannya kumat & kambuh
Readmore »»

Rizka Rahman's Album 2

0







Readmore »»

Muhasabah Diri

0

Muhasabah diri....

Jika Tulisan tentang Palestina dikumpulkan
Maka kita akan menemukan tumpukan tulisan yang menggunung
Jika mengingat berbagai seminar dan pertemuan tentang Palestina
Maka kita akan terkagum-kagum akan jumlahnya
Jika kita mendengarkan gegap gempita teriakan, jargon, ungkapan perasaan untuk Palestina
Maka kita akan terkejut
Jika kita mendengarkan ceramah dan orasi tentang Palestina
Kita akan terpesona oleh keindahan kata-katanya..
Walau demikian...
Saat ini Palestina tetap tersia-sia

Untuk Palestina tercinta....
"Jihad" satu-satunya solusi....
Tiada kata lain selain Jihad....!!!!
Jihad Harta dan Jiwa
Jihad Pikiran dan Tenaga
Karena jihad adalah perasaan bergelora untuk kemuliaan dan keagungan Islam
Perasaan yang haus merindukan kekuatan dan kekuasaan Islam
Ia menangis karena kelemahan dan kehinaan yang menimpa saudaranya
Ia merasa sakit karena kondisi yang tidak diridhai oleh Allah

Ia rela berkorban untuk saudaranya, sehingga ia memperoleh gelar mujahid
Mujahid sejati... bukan seorang mujahid diam, tidur, malas, santai,
serta sibuk dengan harta bendanya.
Karena Mujahid yang selalu banyak tidur, makan, dan tertawa
akan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan kesia-siaan
Sangat tidak mungkin ia menjadi orang yang sukses tercatat
sebagai salah satu dari para mujahid sejati.....
Readmore »»

Rizka Rahman's Album

0







Readmore »»

Ibnu Batutah (penjelajah, pembuka mata dunia)

0


Ibnu Batutah (penjelajah, pembuka mata dunia)

Sejarah memang tak selalu linier. Tergantung dari sisi mana menilainya dan siapa peulisnya. Akibatnya tak jarang pemutarbalikan fakta kerap terjadi. Salah satunya seperti apa yang dialami oleh seorang ilmuwan dan penjelajah muslim abad pertengahan, Ibnu Batutah. Selama ini, sejarah mencatat tokoh penjelajah dunia adalah Colombus (1451-1506 M), yang juga dikenal penemu dunia baru atau benua Amerika. Tapi penilaian Colombus sebagai penjelajah utama dunia harus diselidiki ulang.

Pasalnya jauh sebelum Colombus dan akhirnya menemukan Benua Amerika, orang-orang arab sejak lama sudah dikenal sebagai penjelajah dunia. Bahkan bisa dikatakan merekalah pionir-pionir utama yang mengantarkan umat manusia mengenal satu sama lain. Salah satu tokoh penjelajah muslim yang namanya diukir dengan tinta emas itu tak lain adalah Ibnu Batutah. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji. Beliau dilahirkan di Tangiers, Morocco, Afrika Utara pada 24 Februari 1304M. Besar dalam keluarga yang taat memelihara tradisi Islam, Ibnu Batutah giat mempelajari fiqh dari para ahli yang sebagian besarnya menduduki jabatan kadhi (hakim). Beliau juga mempelajari sastra dan syair Arab.

Kejayaan beliau dinikmati ketika zaman kekuasaan Bani Marrin di Morocco. Penguasaannya tentang dunia pelayaran didapat ketika bersama-sama pasukan kerajaan memerangi pasukan perang Perancis. Morroco dan Perancis hanya terpisah oleh lautan sehingga pertempuran laut sering terjadi antara keduanya. Pada akhirnya, Morroco pernah menjadi salah satu negara jajahan Perancis.

Menurut sejarahwan Barat, George Sarton, yang mengutip catatan Sir Henry Yules, Ibnu Batutah telah mengembara sejauh 75,000 batu melalui daratan dan lautan. Jarak ini jauh lebih panjang dari yang dilakukan Marco Polo dan penjelajah mana pun sebelum datangnya zaman mesin uap. Ketika Marco Polo meninggal dunia, Ibnu Batutah baru berusia 20 thn. Ahli sejarah seperti Brockellman mensejajarkan namanya dengan Marco Polo, Hsien Teng, Drake dan Magellan.

Kisah seluruh perjalanan Ibnu Batutah ditulis oleh Ibnu Jauzi, juru tulis Sultan Morroco, Abu Enan. Karya itu diberi judul Tuhfah Al-Nuzzar fi Ghara’ib Al Amsar wa Ajaib Al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-kota Asing dan Perjalanan yang Mengagumkan). Karya ini telah menjadi perhatian berbagai kalangan di Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Kepergian pertama Ibnu Batutah ketika beliau menunaikan ibadah haji pada usia kurang dari 21 thn. Menurut catatan sejarah, kepergian itu tepat pada 14 Jun 1325M. Beliau menyeberangi Tunisia dan hampir seluruh perjalanannya ditempuh dengan berjalan kaki. Beliau tiba di Alexandria pada 15 April 1326 dan mendapat bantuan dari sultan Mesir berupa uang dan hadiah untuk bekal menuju Tanah Suci.

Satu kesan menarik ketika beliau tiba di pantai Mesir bagian utara. Menurutnya, Alexandria adalah sebuah pelabuhan yang berkembang dan merupakan pusat perdagangan serta pusat angkatan laut di daerah Laut Tengah (Mediterranean) bagian timur. Di Negeri Seribu Menara ini, beliau menerima hadiah dan uang dari sultan Mesir. Perjalanan ke Makkah dilanjutkan melalui Kairo dan Aidhab, pelabuhan penting di Laut Merah dekat Aden.

Beliau kemudian kembali ke Kairo dan melanjutkan perjalanan ke Makkah melalui Gaza, Jerusalem, Hamamah, Aleppo dan Damaskus di Syria. Beliau tiba di Makkah pada Oktober 1926. Selama di Makkah, Ibnu Batutah bertemu dengan jamaah dari berbagai negeri. Pertemuan inilah yang mendorong semangat beliau mengenal langsung negeri-negeri asal jamaah haji. Lalu beliau membatalkan kepulangannya dan memulai pengembaraan menjelajahi dunia.

Mulai dengan menyeberangi gurun pasir Arabia menuju Iraq dan Iran, beliau kemudian kembali ke Damaskus dan melanjutkannya ke Mosul, India. Setelah itu beliau menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya ke Makkah dan menetap di Kota Suci itu selama tiga tahun (1328-1330M). Puas menetap di Makkah, beliau terus melanjutkan pengembaraan ke Aden dan belayar ke Somalia, pantai Afrika Timur, termasuk Ziela dan Mambasa. Kembali ke Aden, lalu ke Oman, Hormuz di Teluk Persia dan Pulau Dahrain. Beliau sempat mampir sebentar di Makkah pada 1332, lalu menyeberangi Laut Merah, menyusuri Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syria dan tiba di Lhadhiqiya. Beliau kemudian menggunakan sebuah kapal Genoa, belayar ke Alaya di pantai selatan Asia Kecil.

Setelah melakukan perjalanan laut, pada 1333 Ibnu Batutah melanjutkan pengembaraan lewat darat. Dilaluinya Rusia Selatan hingga sampai ke istana Sultan Muhammad Uzbeg Khan yang ada di tepi Sungai Wolga. Kemudian diteruskan penjelajahan hingga ke Siberia. Awalnya beliau berniat menuju Kutub Utara, namun dibatalkan kerana dinginnya cuaca daerah “Tanah Gelap”, sebutan wilayah yang tak pernah ada sinar matahari.

Ibnu Batutah mengunjungi Kaisar Byzantium, Audronicas II dan mendapat perlakuan baik dari Kaisar. Dihadiahkan kuda, pelana dan payung.

Perjalanan darat dilanjutkan menuju Persia Utara hingga Afghanistan dan beristirahat di Kabul. Pengembaraan berhenti sementara ketika Ibnu Batutah sampai di India dan bertemu dengan Sultan Delhi, Muhammad bin Tuqluq. Di kesultanan ini, Ibnu Batutah diangkat menjadi hakim oleh sultan dan tinggal di negeri ini selama delapan tahun.

Ketika menuju kawasan Cambay di India, beliau telah diserang sekelompok penyamun dekat Aligarh dan ditawan. Berkat permohonan seseorang, beliau selamat dari hukuman mati dan dilepaskan. Sebelum melanjutkan perjalanan, beliau diminta Sultan Delhi untuk menghadap. Sultan akhirnya memutuskan Ibnu Batutah menjadi duta besar kepada maharaja Cina.

Dalam kunjungannya ke Cina, tercatat kekaguman Ibnu Batutah terhadap kekuatan armada besar yang dibangun mereka. Beliau beruntung mendapat kesempatan menikmati perahu pesiar milik maharaja menuju Peking. Kembali dari Cina, Ibnu Batutah mengunjungi India, Oman, Persia, Iraq dan Damaskus. Kemudian beliau kembali ke Makkah menunaikan ibadah haji untuk kali keempat pada 1348M. Sekembalinya dari haji, beliau menyusuri Jerusalem, Gaza, Kairo dan Tunis. Dengan menumpang perahu dari Tunis, beliau menuju Morroco lewat Dardinia dan tiba di Fez, ibu kota Morroco pada 8 November 1349M. Sejak itu beliau menetap hinga akhir hayat pada 1377M. Seluruh pengembaraan beliau ke negara Islam dan non-Islam berlangsung selama 24 tahun.


Mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai (Indonesia)

"Negeri Hijau nan Subur". Demikianlah penilaian Ibnu Batutah saat mengunjungi wilayah samudera pasai (kini Aceh).Dalam versi lain, dia menulis bahwa pulau Sumatera disebut sebagai "Pulau Jawa yang menghijau". Tampaknya Ibnu Batutah tak ingin menyianyiakan informasi yang ia dapatkan sebelumnya tentang negeri ini.

Kedatangannya disambut Panglima (amir) Daulasah dan Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Dalam pandangan Ibnu Batutah SultanMahmud Malik adalah seorang penganut mazhab Syafi'i yang giat menyelenggarakan pengajian, pembahsan dan muzarakah tentang berbagai hukum Islam. "Sultan sangat rendah hati dan berangkat kemasjid untuk Shalat Jum'at dengan berjalan kaki. Selesai shalat, Sultan dan rombongan biasa keliling melihat keadaan rakyatnya." tulisnya dalam laporan perjalanan.

Beliau juga melihat Samudera Pasai saat itu merupakan pusat studi Islam. Penilaiannya itu wajar karena sejarah berdirinya kerajaan Samudera Pasai juga merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kerajaan Samudera Pasai telah didirikan oleh Sultan Malikus Shaleh (W 1297), yang sekaligus sebagai sultan (pemimpin) pertama negeri itu.

Beliau berada di Samudera Pasai selama 15 hari. Sempat mengunjungi pedalaman Sumatra yang masih dihuni masyarakat non-Muslim. Di situ juga beliau menyaksikan beberapa perilaku masyarakat yang mengerikan, bunuh diri massal yang dilakukan hamba ketika pemimpinnya mati. Dia sempat kembali singgah di Samudera Pasai sekembalinya dari Cina.

sumber: Buku Ensiklopedia Tokoh Islam, Penerbit "Hikmah"
Readmore »»

Cerpen: Perangkap Tikus

0
Sepasang suami dan isteri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan gelagat mereka sambil menggumam
"hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar ?".

Ternyata yang dibeli oleh petani hari adalah sebuah perangkap tikus. Sang tikus langsung panik bukan kepalang. Ia bergegas lari ke sarang dengan rasa takut,
" Ada perangkap tikus di rumah....di rumah. Sekarang ada perangkap tikus...."

Ia pun mengadu kepada ayam dan berteriak,
" Ada perangkap tikus !"

Sang Ayam berkata,
" Tuan Tikus ! Aku turut bersedih tapi ia tak adahubungannya dengan aku."

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak seperti tadi. Sang Kambing pun jawab selamba,
"Aku pun turut bersimpati...tapi tidak ada yang bisa ku perbuat. Lagian perangkap itu tak akan mengenaiku. "

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.
" Maafkan aku. Tapi perangkap tikus itu tidak berbahaya sama sekali bagiku. Takkanlah bisa tubuh sebesar ini masuk perangkap tikus. "

Dengan rasa kecewa ia pun berlari ke hutan menemui Ular. Sang ular berkata
" Eleh eleh engkau ini...Perangkap Tikus yang sekecil itu tak kan pula membahayakan aku."

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah kerana mengetahui ia akan menghadapi bahaya seorang diri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara berdetak perangkap tikusnya berbunyi menandakan umpan sudah mengena.

Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa yang jadi mangsa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang isteri pemilik rumah. Walaupun si Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, akan tetapi isterinya tidak sempat dilepaskan dari bisa ular tersebut. Si suami pun membawa isterinya kerumah sakit.

Beberapa hari kemudian isterinya sudah boleh pulang namun tetap saja demam. Isterinya lalu minta dibuatkan sup cakar ayam oleh suaminya kerana percaya sup cakar ayam dapat mengurangkan demam. Tanpa berfikir panjang si Suami pun dengan segera menyembelih ayamnya untuk dapat membuat sup.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda, malah semakin parah. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.Masih juga isterinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Banyak sekali orang datang melawat jenazahnya. Karena rasa sayang suami pada isterinya, tak sampai hati dia melihat orang banyak tak dijamu apa-apa. Tanpa berfikir panjang dia pun menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang berziarah.

Dari kejauhan...
Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan melihat teman2 nya mati satu persatu.
Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

Doa Ketika ditimpa Musibah

Qodarullahi wa ma sya afa'al
Maksudnya: "Allah sudah mentakdirkan (menentukan) sesuatu yang dikehendakinya."

SUATU HARI NANTI....
KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESUSAHAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA...
PIKIRKANLAH SEKALI LAGI !!!!
Readmore »»